breaking

World View

World View

Menarik

Menarik

Khas Nusantara

Khas Nusantara



 Ditengah hingar bingar  boy band dan girl band, band indie pati vortuna merilis single “bayangmu menghantuiku”   dengan sentuhan pop rock melancholic terdengar easy listening bagi penikmat music, berdiri atas ide oky reza tahun 2009, sempat ganti –ganti personil,  band yang beranggotakan  Oky Reza (lead keyboard ,backing vocal ), Ioko(vokal), Ady(dramer), Ari Tw(guitar), mencoba peruntungannya di music indie, good luck boys ! 




Sambutan Hangat Tugu Masuk Kecamatan Margoyoso 


Kecamatan Margoyoso

Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, petani tambak, nelayan, wiraswasta dan buruh. Margoyoso dikenal dengan industri tepung tapioka, tepatnya di Desa Ngemplak Kidul.

Kecamatan ini terdapat wisata religi Makam Syekh Ronggo Kusumo (di Desa Ngemplak Kidul) dan Makam Syekh Akhmad Mutamakkin (di Desa Kajen), serta wisata alam Tambak Buntu.

Geografi

Batas-batas wilayah Kecamatan Margoyoso yaitu:

* Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tayu dan Kecamatan Gunungwungkal
* Sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa.
* Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Trangkil.
* Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Tlogowungu.

Desa/kelurahan

1. Bulumanis Kidul
2. Bulumanis Lor
3. Cebolek Kidul
4. Kajen
5. Kertomulyo
6. Langgenharjo
7. Margotuhu Kidul
8. Margoyoso
9. Ngemplak Kidul
10. Ngemplak Lor
11. Pangkalan
12. Pohijo
13. Purwodadi
14. Purworejo
15. Sekarjalak
16. Semerak
17. Sidomukti
18. Soneyan
19. Tanjungrejo
20. Tegalarum
21. Tunjungrejo
22. Waturoyo

  1. 1. Hari Jadi Kabupaten Pati


Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pati, dimeriahkan dengan prosesi boyongan atau kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan me
njadi Kabupaten Pati yang dilaksanakan setiap tanggal 7 Agustus, dengan rangkaian kegiatan berupa:
1. Prosesi boyongan/kepindahan Kabupaten Pati, tanggal 6 Agustus pukul 08.00 WIB (dilaksanakan 5 (lima) tahun sekali)

2. Sidang Paripurna Dewan Perakilan Rakyat Kabupaten Pati, tanggal 6 Agustus pukul 19.30 WIB.

3. Tasyakuran dan hiburan berupa pentas Kethoprak di Desa Sarirejo (Kemiri), tanggal 6 Agustus pukul 21.00 WIB.

4. Upacara Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pati, tanggal 7 Agustus pukul 09.00 WIB dilanjutkan ziarah d makam Bupati Tombronegoro.

5. Hiburan wayang kulit di Alon-alon Pati, tanggal 7 Agustus pukul 20.00 WIB.

2.       Meron 

Tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW juga berlangsung di kecamatan Sukolilo, 27 km arah selatan Pati. Up
acara ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang menurut masyarakat setempat disebut Meron. Nasi tumpeng tersebut dibawa ke masjid Sukolilo sebagai kelengkapan upacara selamatan. Prosesi Meron tersebut diikuti oleh aneka ragam kesenian tradisional setempat. Setelah upacara selamatan selesai, nasi Meron kemudian dibagikan kepada seluruh pengunjung. Tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 12 Maulud.

3.       Sedekah Laut

Salah satu acara yang dilakukan untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat dan karuniaNya disamping dipanjatkan permohonan agar Tuhan Yang Maha esa tetap berkenan memberikan ridlo dan barokah serta keselamatan untuk hari-hari berikutnya.

Ritual Upacara Sedekah laut diawali dengan upacara kecil yang disebut Jhodang Sajen kemudian dilarung. Jhodang Sajen berbentuk Perahu Naga Mina. Diadakan tiap tanggal / hari antara Hari raya Idul Fitri dengan Ketupat.

4.       Khoul Syeh Jangkung

Syeh Jangkung merupakan salah seorang murid Sunan Kalijaga (Wali Songo). Menurut cerita Saridin (Syeh Jangkung) dilahirkan di Desa Landoh Kiringan Tayu, setelah dewasa beliau berkelana di daerah-daerah Pulau Jawa bahkan sampai di Sumatera untuk menyebarkan Agama Islam. Makam Syeh Jangkung terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen. Jarak dari kota Pati kira-kira 17 Km kearah selatan menuju Kabupaten Grobogan. Makam ini ramai dikunjungi wisatawan, lebih-lebih hari Jum at Pahing, pen
gunjung berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur,Sumatera bahkan Malaysia dan Singapura.
Upacara khol dilaksanakan 1 tahun sekali yaitu pada bulan Rajab tanggal 14-15, dengan acara : 
- Upacara Ganti Selambu 
- Pasar Malam 
- Pengajian

Fasilitas pendukung: 
KM/WC
Tempat Wudlu
Tempat Penitipan Sandal/Sepatu.
Pendopo
Tempat pengajian.
Tempat Lelang.
Museum Kecil.

Dikomplek Makam Saridin ada beberapa makam :
a. Makam bakul legen yaitu Prayoguna dan Bakirah.
b. Makam isteri-isterinya yaitu RA Retno Jinoli dan RA Pandan Arum.

Aksesibilitas
a. Jarak tempuh dari pusat kota, ± 60 menit.
b. Ada akses transportasi umum.
c. Kondisi jalan relatif bagus.
d. Akses angkutan umum cukup mudah dan frekkuensinya cukup banyak.


5.       Khoul Syeh KH. Ahmad Muttamakin

Syech KH. Akhmad Mutamakkin adalah salah seorang waliullah yang banyak mempunyai karomah dan telah berjasa besar dalam perintisan dan penyebaran Agama Islam, seorang faqih yang di segani serta berpandangan jauh beliau berdakwah dari tempat ke tempat yang dianggap tepat sasaran. Setiap tanggal 10 Muharam Hari Haul beliau diperingati dengan penuh hidmat.

Makam beliau terletak di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati yang dikenal sebagai Kampung Pesantren. Desa yang posisinya jauh dari keramaian kota sekitar lebih kurang 18 Km dari Kota Pati ke Utara dengan kondisi jalan sudah beraspal.


6.       Khoul Syeh Ronggo Kusumo


K.Raden Ronggokusumo adalah putera K.Agung Meruwut yang juga masih keponakan KH.Ahmad Mutamakkin yang merupakan salah satu murid yang lain, ia diperintahkan untuk membuka tanah (menebang hutan) disebelah barat Desa Kajen.

Perintah beliau dilaksanakan penuh tanggungjawab sehingga dalam waktu yang singkat (konon dalam waktu satu malam) tanah tersebut terlihat emplak-emplak, sehingga oleh beliau dinamai Desa NGEMPLAK.

K.Raden Ronggokusumo menetap di Desa tersebut dan ia berjasa besar dalam menyiarkan Agama Islam.Setiap tanggal 10 Shafar, Hari Ulang Tahun atau Haul yang selalu dibanjiri oleh para zairin dari berbagai daerah. 

Makam beliau terletak di Desa Ngemplak, Kecamatan Margoyoso,Kabupaten Pati, sebelah Barat Desa Kajen lebih kurang 2 Km.

7.       Prosesi Sendang Sani

Terletak di Desa Tamansari Kecamatan Tlogowungu sejauh lebih kurang 4 Km dari Kota Pati. Sendang Seni adalah sumber air dimana Sunan Kalijogo akan mengambil air wudlu tiba-tiba disisani oleh pengawalnya sehingga disabda oleh beliau menjadi seekor bulus. 

Di komplek obyek ini terdapat Makam Adipati Pragola beserta pengawalnya dan masih dianggap keramat oleh masyarakat sekitarnya. 

Setiap tahun tepatnya bulan Maulud selalu diadakan prosesi oleh Yayasan Handodento. 

Fasilitas : 

a. Paseban : Tempat untuk mengheningkan diri mohon kepada Sang Pencipta. 

b. Padusan : Tempat mandi yang airnya diambil dari Sendangsani yang sementara 
dipercayai membawa berkah.


8.       Khoul Sunan Prawoto

Makam Sunan Prawoto, yang terletak pekuburan umum Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Sunan Prawoto adalah raja keempat Kasultanan Demak yang memerintah tahun 1546-1549. Nama aslinya ialah Raden Mukmin. Ia lebih cenderung sebagai seorang ahli agama dari pada ahli politik.

Pelaks
anaan khaul setiap tanggal 15 Rajab.




KALENDER WISATA KAB PATI
Tambak Langgenharjo, Margoyoso

Desa Langgenharjo merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan petambak.Sebagian besar lahan berupa Tambak ikan bandeng dan persawahan, di bibir pantai desa ini terdapat area konservasi pantai dengan tumbuhan bakau.


keterangan :
Video diterbitkan pada 8 Agt 2012 oleh
melalui youtube.comhttp://www.youtube.com/watch?v=KkSUgAqp95A
      
    Batik bukan sekedar kain semata yang tergambar motif. Namun ada kandungan makna yang tinggi dibalik itu semua. Cara membuatnya pun tidak hanya sekedar membuat. Seperti halnya cerita batik tulis Juwana. Menurut cerita, dulu pembatik di Juwana ini sebelum membuat motif melakukan ritualan dulu, ada yang puasa, ada yang 'semedi' dan lain sebagainya sehingga menemukan sebuah gambaran motif. Ini di antara beberapa motif klasik Batik Tulis Bakaran Juwana yang sekarang masik eksis di akhir kerajaan Majapahit hingga sekarang, dan sebagian sudah ada yang didaftarkan ke Ditjen HAKI.

Beberapa motif batik yang ditinggalkan nenek moyang, dan berikut cerita makna yang terkandung. Cerita ini di gali dari berbagai sumber dan cerita rakyat setempat :
1.Gandrung
Motif ini dalam cerita belum sempurna, karena dalam menggaris-garis kedatangan sang kekasih. Diyakini bahwa motif ini asli dari sang Nyi Ageng nenek moyang batik Juwana yang saat itu sedang mempunyai rasa rindu keluarga dan sang kekasih. Motif gandrung ini cocok dipakai anak muda dan gadis atau yang sedang mempunyai rasa cinta dan rindu sebagai simbul rasa kerinduannya.
2. Padas Gempal
Padas artinya batu karang, gempal artinya gumpalan. Padas gempal artinya gumpalan batu-batu karang. Istilah padas gempal adalah istilah pesisir motifnya mirip dengan motif Sekar Jagad tapi ada perbedaan bentuk motif. Bentuk motifnya berbeda-beda hampir-hampir semua motif nusantara tertuang dalam padas gempal. Hal ini menunjukkan sebuah keragaman yang ada yang patut untuk dikembangkan dan di jaga. Salah satu pesan yang disampaikan adalah bentuk pluralitas yang harus dikembangkan dan dijaga. Motif ini dipakai oleh orang-orang tua.
3. Liris
Liris atau bisa disebut udan liris mengandung makna hujan rintik-rintik, motif ini biasa dipakai kaum remaja. Motif  udan liris mengajarkan kepada kita generasi penerus bangsa untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ikhtiar mencari rejeki. Halangan dan rintangan bukan menjadi kendala, tetapi justru sebaliknya bisa menjadikan pemicu untuk mencapai hasil yang jauh lebih baik.
4. Manggaran
Berasal dari kata manggar atau bunga kelapa. Kelapa adalah salah satu tumbuhan yang bisa hidup dimana saja, dan semua apa yang ada pada kelapa bermanfaat tidak terbuang sia-sia. Mengandung ajaran supaya hidup bisa seperti kelapa, selalu bermanfaat kepada siapa saja dan bisa hidup dimana saja cepat beradaptasi. Motif ini untuk pakaian bebas.
5. Blebak Lung
Blebak (latar putih dengan pecahan / retakan warna soga). Lung  artinya pohon ubi jalar. Mengandung arti tak putus-putusnya. Harapannya adalah mendapatkan rizki yang tak putus-putus. Dipakai untuk kalangan bebas usia dan acara umum.
6. Blebak Urang (blebak iwak)
Menggambarkan habitat udang. Masyarakat Juwana yang merupakan masyarakat pantai penghasil ikan. Disimbolkan urang (udang) karena masyarakat juwana banyak  yang menjadi petani tambak yang memelihara udang, ikan bandeng dsb. Selain itu menunjukkan sebagai sumber penghasilannya dan sumber penghidupan masyarakat pesisir Juwana.
7. Blebak kopik
Kopik dalam bahasa Jawa artinya kartu. Dalam kartu ada sesuatu yang dirahasikan. Hal ini menyangkut sebuah siasat/ strategi untuk menjadi yang terbaik/ yang terdepan.
8. Sido Mukti, Sido artinya menjadi, mukti artinya mulia atau terhormat. Motif ini juga untuk upacara manten yang khusus dipakai mempelai berdua, artinya kelak nanti menjadi orang-orang yang mulia dan bermanfaat. Motif Sido-Mukti  biasanya dipakai oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang).Sido berarti terus menerus atau menjadi dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. jadi dapat disimpulkan motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan unuk kedua mempelai.
9. Rawan
Rawan dari kata rowo, digambarkan sebagai ombak rawa bersama tumbuhan. Motif ini biasa dipakai oleh orang-orang yang sudah punya anak
10. Sido Rukun
Sido maknanya menjadi, rukun maknanya damai. Artinya menjadi damai. Motif ini dipakai untuk kedua manten setelah sepasar/ 5 hari setelah upacara pernikahan.
11. Kopi pecah
Menggambarkan sebuah kopi yang terkelupas. Motif ini dipakai untuk pakaian bebas.
12. Truntum
Dimaknai sebagi tuntunan atau contoh (teladan). Motif ini biasa dipakai kepada kedua orang tua mempelai pada aupacara pernikahan.
13. LimaranLimaran dari kata samaran atau samar-samar
 14. Kedele kecer
Menggambarkan kedele yang tercecer dari tempatnya. Simbol dari kesejahteraan masyaraakat. Mendapatkan rizki yang melimpah. Berharap yang memakai ini nanti mendapatkan rizki yang banyak. Dipakai oleh semua umur.
15. Gringsing
Gringsing adalah motif sisik ikan. Merupakan hiasan sisik-sisik ikan. Pada Gringsing  ini motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada bagian kain yang kosong. Simbol dari sebuah keindahan dan ketelitian oleh masyarakat pantai pesisir.
16. Nam Tikar
Menggambarkan anyaman tikar. Menggambarkan sebuah aktifitas orang kampung yang penghidupannya dari kerajinan. Menunjukkan sebuah kreatifitas dan selalu telaten, sabar.
17. Ungker Cantel
Motif ini menggambarkan untaian mata kail yang saling berkaitan satu sama lain  (gotong royong) dipakai untuk pakaian bebas.
18. Bregat ireng
Bregat artinya pohon besar, ireng artinya keadaan gelap (suasana sedih). Motif ini khusus dipakai saat lelayu/ takjiyah
19. Satrio, Sarung Satriyo (latar ukel romo) Pola Satriya Wibawa, dipakai oleh calon pengantin pria pada saat upacara midodareni  malam sebelum akad nikah esok harinya. Sebagai serah terima kedua mempelai pengantin, pengantin putri memberikan sarung satriokepada pengantin laki-laki. Harapan yang terkandung adalah agar kelak menjadi suami yang berwibawa dan pelindung yang penuh tanggung jawab. Menjadi suami yang kesatria.
20. Kawung. Bentuk dasarnya adalah oval yang hampir menyentuh satu sama lain secara simetris . Kawung (buah aren) sebagai penghasil gula yang menyimbulkan rasa manis, memiliki filosofi keagungan dan kebijaksanaan yang tinggi. Pohon yang lurus tanpa cabang menyimbolkan kejujuran dan kedisiplinan.
21. Magel Ati ,  Motif ini kotak-kotak simetris dan ditengahnya ada cecekan silang.
Bentuk cecekan silang merupakan simbol dari hal yang salah, artinya ada sebuah gejala sosial yang salah kaprah pada saat itu, tapi masih di Ugemi oleh masyarakat. Hal ini bentuk pengingatan sang nenek moyang (pembatik) dalam mensikapi persoalan sosial.
Bentuk motif kotak,/ ter·ko·tak-ko·tak terbagi-bagi; terpisah-pisah; terpecah-pecah mengandung sebuah maksud : kaum muda hendaknya jangan berjuang secara terpecah-pecah, sebab hasilnya tidak baik.  Me·ngo·tak-ngo·tak·kan  membuat batas-batas lingkungan sehingga yg satu dengan  yang lain terpisah; memecah-belah (golongan, kelompok, dsb)
Magel Ati (megelke ati),: (menyakitkan hati), (hati merasa kesal) ini secara bahasa maksud dari nama motif ini.
menggambarkan sebuah sikap tidak suka terhadap sebuah persoalan pada saat itu. Motif ini tidak diketahui kapan diciptakan. Yang jelas sudah turun temurun dari nenek moyang.  
22. Merak Ngigel, Motif ini bagian dari motif  binatang. Motif-motif pesisiran yang berbentuk flora dan fauna menyimbolkan perasaan atau ketertarikan tertentu dari pendesainya. Motif batik ini menggambarkan seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya secara penuh untuk  menunjukkan keindahannya. Pola ini terinspirasi perilaku burung merak ketika menarik pasangannya. Motif ini menyimbulkan keinndahan, dan semangat menggapai tujuan. Motif utama menggambarkan burung merak yang sedang termangu atau termenung karena sendirian. Motif ini melambangkan proses permenungan atau hakikat keindahan.
23. Ladrang, Motif ini adalah dengan pola parang yang lebih halus dengan ukuran yang lebih kecil dan mengandung citra feminism. Ladrang ini menyimbulkan kelemah lembutan, perilaku halus dan bijaksana.
24. Motif Onto Bugo (Nogo)
Naga adalah simbul dari sebuah power besar/ kekuatan dan kekuasaan. Naga simbol sebagai binatang yang paling kuat.  Naga atau Lung melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, pendirian teguh. Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan. Dari semua makhluk mitologi China, Naga merupakan makhluk yang tertinggi dan menjadi raja semua hewan di alam semesta.
25.  Gunung-gunungan Pemahaman sederhana gunung-gungungan adalah sebuah gunung tapi tidak seperti gambar gunung yang sebenarnya, karena hanya mengambil simbol. Batik klasik ini dengan corak hitam, putih dan cokelat merupakan asli motif Juwana. Masyarakat pembatik menamainya motif gunung-gunungan. Gambarnya lereng dari bawah ke atas. Komponen motifnya terdiri dari kembang sulur, ada burung, ungker, cecek (penghuni gunung).
Motif gunungan ini mengandung filosofi kehidupan yang dalam. Dengan mengambil simbol sebuah  gunung melambangkan sebuah kebesaran. Gunung yang merupakan bagian makhluk Tuhan yang mempunyai manfaat besar dalam kehidupan manusia. Gunung menggambarkan keaadaan yang tenang dan sejuk. Terkadang orang yang sering mengunjungi  gunung tingkat kesadarannya akan menghargai dan memelihara alam lebih tinggi di banding mereka yang tinggal di gemerlapnya dunia kota. Puncak gunung adalah tujuan para pendaki. Puncak gunung ini di gambarkan sebuah fokus yang harus dicapai. Dan setelah mencapainya akan merasa terkagum atas keindahannya. Hal itu mengingatkan pada kita semua bahwa untuk mencapai ke puncak itu membutuhkan perjuangan yang hebat dan beberapa pengorbanan, usaha dan tekad yang kuat. Gunung bisa mengilhami kepada dia yang mengunjunginya. Gunung berbentuk besar dan menjulang tinggi. Hal itu juga menyiratkan kita sebuah keinginan luhur. Semua orang pasti menginginkan kehidupannya terus menanjak seperti gunung. Namun untuk mencapai itu semua memerlukan usaha yang keras dan sungguh. (Irham Yuwanamu)


SYAWALAN SEDEKAH LAUT DAN HAUL MBAH SHOLEH AL-MUNAWWAR

Sedekah laut adalah tradisi tahunan yang dilaksanakan sepekan setelah lebaran sebagai perwujudan rasa syukur dan permohonan keselamatan warga nelayan saat akan melaut
lagi. Tepatnya akan dilaksakan pada Minggu pagi, 26 Agustus 2012 ini. Yaitu dengan melarung sesaji kemuara laut. Sebelumnya sesaji itu diarak bersama warga keliling didesa nelayan Bajomulyo dan Bendar pukul 08.00 sampai selesai. Kemudian sebelum pemberangkatan sesaji kelaut dilaksanakan upacara di pelabuhan unit II yang akan dihadiri oleh Bupati Pati beserta jajaranya dan Muspika Juwana. Semua masyarakat ikut terlibat disini.
Setelah Sedekah laut disusul kegiatan besar juga yakni haul Mbah Sholeh al-Munawwar. Mbah Sholeh yang sebagai salah satu Ulama' ternama di akhir abad 18 M


Madrasah PGIP Hadiwijaya adalah madrasah putri yang pertama kali didirikan di eks Karesidenan Pati. Semula bernama "Madrasah Islam Banat" didirikan pada tanggal 8 Muharrom 1359 H/ 1940 M oleh KH. Ahmad Fahrur Rozi Nawawi dan Ibu nyai Rusmiyati.
Perguruaan Islam Al-Hikmah (PRIMA), didirikan KH. Moh. Ma'mun Muzayyin pada 1989, awalnya adalah Madrasah Diniyyah (MADINAH). Tapi pada perkembangan berikutnya, berdiri Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs.) pada 1993, kemudian disusul Madrasah Ibtidaiyyah pada 1995.


Pada dasarnya, madrasah tersebut lahir dari pengembangan sistem pendidikan bandongan/sorogan Pondok Pesantren Majelis Ta’lim Al-Hikmah (PERMATA) yang sudah lebih dulu lahir pada 1979. Dengan ketokohan dan kharismatik KH. Moh. Ma’mun  Muzayyin, sehingga dalam waktu yang sangat relatif, Madrasah beserta Pesantren PERMATA Putra/Putri terwujud untuk mengemban amanat dari para Wali Santri dan Wali Murid.
Perkembangnya pun begitu pesat, pada awal berdirinya (1993/1994), MA Al-Hikmah memiliki siswa sebanyak 105 siswa, 55  (pa) dan 50  (pi). Dalam perjalanannya, MA Al-Hikmah berstatus TERDAFTAR. Dengan berbagai pertimbangan prestasi akademiknya, maka pada 5 Desember 1995, mengajukan akreditasi  dan Alhamdulillah lolos dengan status DIAKUI.
Tidak cukup sampai di sini, setelah mendapat status DIAKUI, lima tahun berikutnya, dengan memacu dan mengoptimalkan semua komponen dan potensi yang dimiliki, pada 22 Juni 2000 Madrasah ini DISAMAKAN.  Dan pada 27 Juni 2005 sebagai TERAKREDITASI dengan peringkat  B ( Baik ).
Selain prestasinya dalam berakreditasi, siswanya juga berprestasi dalam EBTANAS/UAN, dengan kelulusan 100 persen. Bahkan pada 1995/1996, dapat rangking 1 dari 10 besar se KKMA Pati Utara.
Prestasi lainnya, menjuarai MTQ pelajar tingkat Kabupaten dan dua kali menjuarai MTQ pelajar tingkat Propinsi se Jawa Tengah kategori terbaik 1 (satu), yang diwakili Moh. Dzulqornain Kelas III MA pada 1999/2000. dan Moh. Aniq Khoirul Basyar Kelas III MA pada 2003/ 2004.
Perguruan Islam Al Hikmah (PRIMA) Kajen, bernaung dalam satu Yayasan dengan Pesantren Majlis Ta'lim Al-Hikmah (PERMATA) yaitu Yayasan Al Hikmah yang diasuh KH, Moh, Ma'mun Muzayyin. Pada 1996, memiliki Koperasi bernama Kopontren PERMATA MITRA SEJAHTERA, yaitu sebuah lembaga keuangan yang berbadan hukum. Koperasi ini merupakan wahana untuk mensejahterakan Guru dan Karyawan MA Al-Hikmah .
Madrasah Aliyah Al-Hikmah berada di tengah-tegah Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, yaitu Desa  yang terletak di sebelah utara Kota Pati 17 KM, merupakan Desa yang telah banyak berjasa menyumbangkan putra-putri terbaiknya terhadap bangsa, negara dan agama. Nampaknya tidak berlebihan, karena desa ini banyak dihuni  ulama-ulama besar beskala nasional dan internasinal yang tekun mengajarkan berbagai literatur ilmu-ilmu agama Islam hasil karya ulama-ulama (mutaqoddimin dan mutaakhirin).
Disamping lembaga pendidikan formal (Madrasah), desa ini juga banyak lembaga non formal  (Pondok Pesantren), yang kelahirannya telah dibidani oleh ulama-ulama kharismatik dan berhaibah tinggi dilingkungan ummatnya, dan telah mampu menjadikan tampilan wujud desa ini menjadi sangat berbeda bila dibandingkan dengan desa-desa lain di Kabupaten Pati pada Khusunya dan daerah-daerah lainnya pada umumnya. Bahkan Desa Kajen praktis menjadi kiblat referensi dan rujukan dari berbagai penyelesaian persoalan agama, keagamaan dan keberagaman secara macro. Di desa yang indah inilah KH. Moh. Ma’mun Muzayyin dilahirkan, dibesarkan dan kemudian berjuang memperbaiki dan memberdayakan umat lewat “Majelis Ta’lim" diantaranya, Pengajian "Kemisan" yang diikuti masyarakat umum (khusus Bapak-Bapak) dan Pengajian Ahad Siang yang diikuti masyarakat umum (khusus Ibu-Ibu).

Perkembangan Fisik MA Al-Hikmah
Sejak dibuka Kelas 1 Aliyah tahun 1993 MA Al-Hikmah masih  menumpang  dan menempati gedug milik Madrasah Diniyah Al-Hikmah yaitu Madrasah keagamaan yang lebih dahulu kelahirannya.
Setahun berikutnya, didirikan tahap I gedung sekolah dengan konstruksi bangunan bertingkat II (dua). Gedung ini langsung dipakai dan dimanfaatkan untuk kegiatan proses KBM sembari menyempurnakan bangunan gedung lantai II, yang selanjutnya ditempati siswa putra–putri dalam satuan terpisah.
Pada 2001 dibangun dan didirikan pula tahap II sebuah gedung dengan kontruksi bagunan tingkat III yang berada di sebelah barat gedung I (induk) berjarak  kurang lebih 50 M . Selanjutnya gedung ini difungsikan sebagai tempat pembelajaran siswa putri baik tingkat Ibtidaiyyah, Tsanawiyah, Aliyah  dan Diniyah.
Tahun 2002, disusul berdirinya bangunan dengan kontruksi berlantai III (tiga) berhadapan dengan Gedung Induk, yang terdiri dari 4 lokal. Gedung ini masih dalam proses pembangunan penyempurnaan dan menjadi problem unik dalam  Yayasan sehubungan dengan meninggalnya KH. Moh.Ma’mun MZ. Di Makkah pada 2003.
Pada 2003, di bangun pula gedung berkontruksi lantai II yang diharapkan kegunaan fungsinya sebagai gedung serba guna. Karena musibah tersebut di atas, maka bangunan ini baru berupa kerangka yang berbentuk tiang-tiang cor beton sebagai pilar calon bangunan.